Niat puasa idul adha merujuk pada keinginan di dalam hati untuk menjalankan ibadah puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah, khususnya puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi kita yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji karena memiliki keutamaan yang sangat besar dalam menghapus dosa dan meningkatkan ketakwaan sebelum hari raya kurban tiba. Kita dapat membaca niat ini sejak malam hari hingga sebelum waktu subuh, namun ada keringanan khusus bagi yang terlupa.
Daftar Isi Artikel
Mengapa Kita Perlu Menjalankan Puasa Tarwiyah dan Arafah?
Sebelum masuk ke bagian niat, kita perlu memahami alasan mengapa kedua puasa ini begitu istimewa bagi umat muslim. Menjelang hari raya Idul Adha, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu yang sangat dicintai oleh Allah untuk beramal saleh. Puasa Tarwiyah dan Arafah menjadi puncak dari rangkaian ibadah tersebut.
Tujuan utama dari pelaksanaan puasa ini adalah untuk mendapatkan ampunan. Puasa Arafah secara khusus dipercaya dapat menghapuskan dosa-dosa kita selama dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Ini adalah kesempatan besar yang sebaiknya tidak kita lewatkan begitu saja.
Lafal Niat Puasa Tarwiyah pada Tanggal 8 Dzulhijjah
Puasa Tarwiyah dilaksanakan dua hari sebelum Idul Adha. Istilah Tarwiyah sendiri berasal dari kata yang berarti “berpikir” atau “merenung”, mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim yang merenungi mimpinya. Berikut adalah lafal niat yang bisa kita baca:
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi Ta’ālā.
Artinya: “Saya berniat melakukan puasa sunah Tarwiyah karena Allah Ta’ala”
Membaca niat ini menjadi langkah awal agar puasa kita sah dan diterima sebagai amal sunnah yang berpahala.
Lafal Niat Puasa Arafah pada Tanggal 9 Dzulhijjah
Puasa Arafah dilakukan tepat sehari sebelum hari raya Idul Adha, bertepatan dengan saat para jamaah haji sedang melakukan wukuf di Padang Arafah. Bagi kita yang berada di rumah, puasa ini adalah bentuk solidaritas batin dengan para tamu Allah di tanah suci. Berikut adalah lafal niatnya:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى
Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillaahi ta’aala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah ‘Arafah karena Allah Ta’ala”
Pastikan kita sudah memantapkan niat ini di dalam hati sejak malam hari agar saat bangun sahur, kita sudah siap secara mental dan fisik.
Cara Membaca Niat Jika Lupa di Malam Hari
Seringkali karena kesibukan atau rasa kantuk, kita lupa membaca niat puasa idul adha pada malam hari atau saat makan sahur. Dalam aturan puasa sunnah, terdapat kelonggaran yang memudahkan kita. Jika kita bangun di pagi hari dan ingin berpuasa namun belum membaca niat, kita masih boleh berniat di pagi atau siang hari.
Syarat utamanya adalah kita benar-benar belum makan, minum, atau melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak waktu subuh. Berikut adalah lafal niat puasa Arafah yang bisa dibaca pada siang hari:
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah swt”
Kelonggaran ini merupakan bukti bahwa agama kita memberikan kemudahan bagi umatnya yang sungguh-sungguh ingin beribadah meski sempat terlupa.
Aturan dan Cara Melakukan Puasa Menjelang Idul Adha
Pelaksanaan puasa ini sebenarnya sama dengan cara kita berpuasa pada bulan Ramadhan. Namun, ada beberapa hal nyata yang perlu kita perhatikan agar ibadah tetap berjalan lancar:
- Waktu pelaksanaan Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan Arafah pada 9 Dzulhijjah
- Kita tetap disarankan untuk makan sahur guna menjaga stamina dan segera berbuka saat matahari terbenam atau waktu maghrib tiba
- Perlu diingat bahwa kita dilarang keras berpuasa pada tanggal 10 Dzulhijjah atau tepat pada hari raya Idul Adha, serta pada 3 hari tasyrik setelahnya
Bagi yang ingin menambah pahala Kita juga diperbolehkan berpuasa dari tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah dengan lafal niat umum berikut: Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta’âlâ. Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah hari ini karena Allah ta’âlâ”
Menjalankan puasa ini bukan hanya sekadar menahan lapar, tetapi juga cara kita melatih kesabaran dan keikhlasan. Risiko lelah saat beraktivitas adalah hal yang masuk akal, namun ganjaran yang dijanjikan jauh lebih besar daripada rasa lelah tersebut.
Dengan memahami cara dan lafal niat puasa idul adha ini, kita semua diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik. Persiapan batin melalui niat yang benar adalah kunci utama agar setiap detik haus dan lapar yang kita rasakan bernilai pahala di sisi Allah. Semoga kita diberikan kemudahan untuk menyelesaikan puasa Tarwiyah dan Arafah tahun ini dengan sempurna.
